Cerdas Gunakan Uang, Bahagia di Masa Depan

Cerdas Gunakan Uang, Bahagia di Masa Depan

“Dua tahun kerja kamu udah dapet apa di sini?” tanya atasan saya ketika hari terakhir kerja

“Saya bisa beli handphone pak” jawab saya dengan lugunya.

Banyak hal ga penting saya beli selama dua tahun kerja, sampai saya lupa betapa pentingnya menabung. Tiga bulan sebelum resign, saya sempat membuka tabungan untuk tempat menabung. Namun sial, uangnya saya pakai untuk membeli handphone. Lantas, setelah resign saya ga punya simpanan apa-apa selain uang dari bonus dua setengah gaji.

Setelah menganggur selama tiga bulan, saya dapat kerjaan baru dengan gaji yang sepadan. Saya udah was-was nih takut kejadian lagi seperti di tempat kerja sebelumnya, bagaimana uang saya seperti tidak berbekas alias lenyap begitu aja. Pada akhirnya saya harus cerdas menggunakan uang gaji yang keluarnya setiap tanggal 25 itu. Berikut adalah beberapa langkah cerdas gunakan uang.

sumber foto hitsbanget.com

Catat Semua Pengeluaran Perbulan

Saya mengikuti saran teman untuk catat semua pengeluaran harian selama satu bulan. Beruntung, ada aplikasi mencatat pengeluaran yang saya download di playstore. Setelah hitung-hitung, akhirnya saya bisa menentukan kisaran biaya yang diperlukan untuk transport, makan, dan biaya lainnya.

Selanjutnya, Saya menggunakan cara tradisional ala emak-emak yaitu amplop. Itu berguna lho. Jadi saya bisa memisahkan uang yang akan digunakan untuk makan, transport, biaya jalan-jalan, atau belanja bulanan. Habis itu saya juga transfer uang tabungan ke rekening lainnya dan juga menunaikan shodaqoh bulanan ke lembaga zakat.

Beberapa jam setelah memisahkan uang tadi, saya merasa seperti boke. Gimana ga keliatan boke, begitu liat rekening kok kayak habis, tapi yang pasti kebutuhan bulanan termasuk tabungan tercukupi. Dan saya juga tetap mencatat pengeluaran harian selama sebulan. Pencatatan ini perlu untuk memantau arus kas keluar setiap harinya.

Gunakan target harian pengeluaran

Target pengeluaran itu perlu biar ga kebablasan menggunakan uang. Biasanya saya targetin dalam sehari makan 50.000. itu termasuk makan siang dan sore plus buah. Kalaupun ada sisa, biasanya saya tabung.

Ga cuman hari kerja, target pengeluaran juga perlu untuk hari sabtu dan minggu. Karena jujur, pengeluaran terbesar itu terjadi di hari libur. Bagaimana saya biasanya hangout bersama teman, nongkrong di kafe, belanja di mal, nonton film, atau traveling ke luar kota.

Gampang-gampang susah sih menentukan pengeluaran di hari libur, karena sifatnya yang tidak tetap alias ga selalu keluar rumah juga. Tapi biasanya saya batasin maksimal 200.000 pengeluaran sehari, lewat dari itu mending balik ke rumah, hehe.

Menggunakan teori 60 dan 40 Persen

Saya menggunakan teori 60 dan 40 persen. Jadi, 60 persen adalah uang yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan sehari-hari sedangkan 40 persen lagi adalah dana simpanan (tabungan, dana darurat, deposito atau investasi).

Sebagai contoh, jika gaji sebesar dua juta perbulan, itu artinya 60 persen dari dua juta yaitu 1200.000 adalah dana yang bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Dari 60 persen ini dibagi untuk kebutuhan makan, transport, dan lainnya. Sedangkan 40 persen yaitu 800.000 digunakan untuk dana simpanan dan dana darurat, syukur-syukur bisa investasi dan deposito.

Inget, dana darurat itu perlu banget. Kita ga tau apa yang bakal terjadi hari besok, dua hari kemudian atau sebulan lagi. Dana darurat ini bisa dipakai untuk keperluan yang mendesak, misal kalau tiba-tiba terkena musibah dan butuh dana secepatnya. Kalau bukan dari dana darurat lalu dari mana?

Ubah Gaya Hidup

Salah satu alasan kenapa orang gagal dalam mengelola pengeluaran karena gaya hidup yang tinggi. Tapi kalau pakai prinsip pengusaha, semakin tinggi biaya hidup, pendapatan juga harus lebih tinggi, bukan? Tapi bagaimana bagi karyawan yang belum punya usaha seperti saya ini? ya menyesuaikan sesuai gaji.

Pada intinya, jangan malu terlihat sederhana, malu lah kalau sok kaya tapi uang ga ada. Saya memilih makan siang di warteg ketimbang di restoran mahal. Boleh sih makan di sana tapi maksimal sebulan dua kali. Ataupun ngumpul sama temen-temen di kafe, biasanya saya hanya beli minumnya aja, sisanya makan di luar. Makan di kafe mahal gile, uangnya bisa dipake makan seharian di warteg.

Saya memilih untuk tidak menggunakan kartu kredit jenis apapun demi kepentingan diri sendiri juga. Dan walaupun hasrat membeli barang itu sangat tinggi, saya masih bisa tahan. Saya ingat filosopi sumpah palapa-nya gajah mada, bagaimana saya ga mau bersenang-senang, sebelum mandiri dari segi finansial.

Jangan lupa Investasi

Saya tertarik pada penjelasan Mas Aulia Akbar pada sebuah acara financial class MoneySmart.id pada 15 Desember lalu di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Beragam investasi bisa kita gunakan. Salah satu yang paling aman adalah reksadana. Tapi ya gitu, dapetnya juga kecil. maksimal 5 persen lho setahun.

Seperti pohon yang semakin tinggi semakin kencang angin yang menerjang. Itu juga berlaku pada investasi. Bagaimana semakin tinggi yang didapatkan, semakin tinggi juga resikonya. Salah satunya adalah investasi Saham. Jadi, Mas Aulia Akbar ini baru aja rugi dari investasi Saham. Tapi ya itu udah bagian dari resiko. Bisa untung, bisa juga buntung alias minus.

Selain reksadana dan saham, ada juga emas. Menarik sih  karena ada juga tabungan emas seperti di Pegadaian. Mas Aulia Akbar menyarankan untuk membeli emas batangan, karena kalau emas perhiasan akan turun harganya entah itu karena retak, atau cacat pada perhiasannya. Selain Emas, ada juga investasi berupa surat hutang negara. Jadi negara yang berhutang ke kita dan pastinya terjamin.

Cerdas mengelola keuangan itu perlu, biar kita bisa mandiri secara finansial. Semua kebutuhan harian tercukupi, begitu juga kebutuhan tersier maupun investasi yang penting untuk masa depan. Ingat, keputusan hari ini akan membawa pengaruh di masa depan.

Oh iya, bagi kalian yang punya pengalaman dalam hal mengelola keuangan, bisa ikutan dalam lomba blog MoneySmart2018 #CerdasDenganUangmu. Syarat dan ketentuannya bisa dilihat pada link berikut [link]

6 Comments

  1. Duh saya merasa di sentil saat membaca tulisan kak Derus. Sejauh Ini, saya nyaris ndak pernah membuat financial planning… nuhun ya kak diingatkan

  2. Orang malas mencatat keuangan ,hal itulah yang membuat kita harus lebih banyak konsisten untuk melihat pembukuan kita.

    Selain terlihat lebih rapi juga bisa melihat kita hemat atau boros

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.