Salah satu rumah di baduy luar

Baru-baru ini saya mengunjungi suku baduy yang berada di kampung cibeo, Kabupaten lebak, Provinsi Banten. Saya begitu terkesima manakala mereka masih memegang teguh adat istiadat di tengah modernisasi saat ini. Nilai budi pekerti dan luhur dijunjung tinggi selaras dengan harmoni bersama alam. Itulah suku baduy khususnya baduy dalam, mereka memang tidak mau menerima teknologi dan juga budaya dari luar, bahkan orang luar pun (bule) tidak boleh masuk. Tetapi nyatanya dibalik sosok yang terkesan kaku dan kolot itu, ada beberapa cerita menarik untuk dibahas, berikut adalah 7 cerita random tentang suku baduy dalam :

1. Sangat suka travelling
Malam itu, kami sedang asyiknya mendengarkan cerita dari salah seorang bisa dibilang sesepuh. ternyata orang baduy juga doyan ngobrol sama seperti orang pada umumnya dan juga bisa berbahasa indonesia. Saat ini beliau berumur 61 tahun. Lalu bercerita kepada kami bahwa dulu sewaktu muda, dia pernah ke bandung untuk sekedar berjalan-jalan. Beliau pergi ke gedung sate dan beberapa tempat lainnya di bandung. Menempuh perjalanan dengan jalan kaki sekitar 5 hari lamanya dari baduy dalam! dan Jikalau malam, biasanya menginap di kelurahan ataupun polsek terdekat. sungguh hal yang terkesan ‘gila’ jika dilakukan oleh orang awam melakukan jalan kaki seperti beliau sampai berhari-hari.
Cerita lain berasal dari safri, seorang laki-laki muda baduy dalam. Dia suka pergi ke jakarta hanya untuk berjalan-jalan saja atau bertemu dengan temannya. Total sudah 23 kali safri ke jakarta. Bahkan dia pernah hangout ke salah satu mal di daerah bundaran HI dan makan di sebuah restoran cepat saji. Jika teman-temannya naik mobil atau motor maka dia akan tetap berjalan kaki dan tidak memakai sandal tentunya. untuk dapat bertemu dengan temannya di jakarta, maka safri harus ke baduy luar untuk mengabarinya via sms.

2. Kehangatan dalam keluarga
Entah mengapa Saat berada di baduy dalam, malam hari akan terasa lebih lama dibandingkan biasanya, padahal baru sekitar jam 7 malam, tapi rasanya sudah seperti jam 12 malam. Ingin rasanya cepat bertemu dengan pagi, terlebih tak banyak yang bisa dilakukan apalagi tak ada listrik. Beruntung si empunya rumah menyuguhkan pisang rebus yang sangat hangat (panas) untuk kami.
Ketika sedang asyiknya menyantap sebuah pisang rebus dengan segelas kopi hitam yang tiis, keluarga di tempat yang kami tempati ternyata sedang asyiknya menyantap nasi plus mie instan dengan lahapnya. Mereka makan bersama dalam satu keluarga terdiri bapak, ibu, anak juga menantu dalam sebuah pelepah pisang. mungkin makanannya biasa saja, tapi makan secara bersama-sama apalagi dalam satu wadah itu yang luar biasa. makan seperti itu dapat menghangatkan suasana keluarga juga membuatnya semakin dekat dan akrab.
3. Kampung tanpa deterjen
Ketika ingin ke baduy dalam, saya dan teman lainnya sudah diwanti-wanti untuk tidak membawa sabun, odol, shampoo apapun itu yang yang berjenis deterjen. Mereka (orang baduy dalam) memang sangat menghargai juga menjaga tanah dan sungai agar tetap alami dan bersih, sampai-sampai bahan deterjen pun sangat dilarang untung mengotori kampung mereka. Saya ingat ketika mendengar berita jakarta krisis air tanah, bukan hanya semakin mengering tapi juga sudah bercampur dengan limbah deterjen dari rumah tangga maupun pabrik. Itulah bahayanya deterjen bila sisa pemakaiannya langsung dibuang kesungai atau tanah.
Orang baduy memang cerdas dalam memanfaatkan alam sebaik mungkin, buktinya untuk mandi saja mereka memanfaatkan batang pohon honje sebagai sabunnya, juga serabut kelapa sebagai sikat giginya. Untuk Urusan membilas pakaian, mereka memang tidak menggunakan pemutih, sabun apalagi pewangi pakaian. cukup dengan di gosokan dengan batu-batu di sungai, pakaian mereka langsung bersih bak seperti di iklan pencuci pakaian. bahan pakaian mereka memang tidak setebal bahan jeans atau wol, jadi di gosok, cuci  dan jemur ala penonton musik tv pun jadi. satu lagi, pernah mendengar abu gosok? nah kalau mencuci peralatan rumah tangga seperti sendok, piring maupun gelas mereka pakai abu gosok. suatu hal sangat jarang dilakukan oleh orang ‘modern’ saat ini menggunakan abu gosok, bahkan tukang abu gosok pun seperti sudah menghilang dari bumi. walau memang ribet, tapi menggunakan abu gosok diyakini tak akan merusak lingkungan karena berasal dari sisa pembakaran tumbuhan juga.   
 
4. Menikah di jodohin
Cerita menarik ketika membahas tentang pernikahan. Safri ternyata sudah berkeluarga dan mempunyai tiga orang anak. padahal kalau dilihat dia memang masih sangat muda dan umurnya masih 25 tahun. Orang baduy memang banyak yang menikah muda atau istilahnya pernikahan dini. Lanjut ke cerita awal, Lalu dia (safri) bercerita bahwa menikah di baduy dalam tidak melalui proses pacaran tetapi dijodohkan langsung dengan orang tua. Dan pastinya dijodohkan dengan orang baduy dalam juga.

“kalau ga suka sama jodohnya bagaimana?” salah satu teman saya bertanya
“ya hanya di pendam saja dalam hati” safri pun menjawab dengan malu-malu

walau begitu, safri bercerita bahwa kehidupannya setelah menikah seperti orang pacaran. tak ada perselisihan dari mereka bahkan selalu menerima kekurangan maupun kelebihan dari pasangan masing-masing. so sweet!
Jembatan Bambu Baduy Luar
5. Keramahan dan Ijin tinggal di baduy dalam

Orang baduy sebenarnya sangat welcome dengan pendatang (bukan orang bule). Kesan menyeramkan tidak sama sekali terpancar, yang ada malah keramahan dan murah senyum. Mereka bersedia rumahnya dijadikan tempat menginap sementara, juga rela memasak makanan bagi para tamunya. Namun jangan lupa untuk membawa logistik ya berupa beras dan lauknya, jangan sampai mereka yang menyediakan logistik untuk kita.
Saya sempat berpikir bahwa enak juga  ya kalau tinggal di baduy dalam lebih lama, karena tidak akan bertemu dengan stress, polusi dan lainnya. Ternyata Ijin tinggal di baduy dalam hanya boleh dua malam saja. Namun pernah ada yang tinggal sampai sebulan lho, tentu bukan maksud untuk jalan-jalan semata, mereka adalah para peneliti dari universitas di daerah bandung. terus mereka menginap di rumah orang gitu selama sebulan? tentu tidak, pada akhirnya masyarakat suku baduy dalam pun bergotong royong untuk membuatkan sebuah rumah khusus bagi para peneliti tersebut. Masyarakat baduy memang dikenal sangat bergotong royong satu sama lain. terutama jika ingin membangun rumah, maka mereka rela untuk menyediakan tenaganya tanpa di bayar sepeserpun uang.
6. Mencuci kaki sebelum masuk rumah
Mungkin bagi sebagian orang terutama saya, tidak menggunakan alas kaki kemanapun merupakan hal yang tidak biasa dan kesannya aneh aja. Sangat berbeda dengan orang baduy dalam, mereka harus, kudu, wajib untuk tidak menggunakan alas kaki alias nyeker kemanapun sekalipun itu di mal. Itu merupakan ketentuan dari leluhur. Walau begitu, ketika masuk rumah, mereka akan selalu mencuci kaki dengan air dalam sebuah wadah bambu semacam kelontong gitu yang sudah di siapkan di depan rumah, kemudian mengalas kaki pada kain kecil berwarna biru kehitaman. Wadah bambu tersebut ada namanya masing-masing, jadi tidak sembarang orang memakainya.

Perkampungan terakhir sebelum menuju baduy dalam

 
7. Kepala suku (Pu’un) yang bisa segalanya
Sebuah perkampungan baduy dalam di kampung cibeo ternyata punya seorang pu’un atau semacam kepala suku. Banyak yang meyakini khususnya orang baduy, seorang pu’un punya kelebihan yang beda di bandingkan orang biasa. kelebihan seorang pu’un adalah dapat menentukan kapan masa tanam dan kapan masa panen. Seorang pu’un berhak menerapkan hukum adat, juga dapat mengobati yang sakit, dan menentukan kapan masuk waktu Kawalu, yaitu masa puasa untuk warga Baduy. Orang baduy juga puasa, namun uniknya mereka puasa selama tiga bulan. Dalam satu bulan hanya satu hari saja berpuasanya. 
Untuk sekedar berbincang seperti biasa dengan seorang pu’un atau kepala suku rasanya tidak mungkin dilakukan. Namun jika punya tujuan atau keluhan baik itu masalah kesehatan, mendapatkan pekerjaan, ingin gaji naik atau bahkan jodoh, beliau akan bersedia datang. Ada pantangan bila ingin bertemu, kita tak boleh merokok di depan beliau. Orang baduy memang tidak ada satupun yang merokok apalagi seorang pu’un. Tapi jika ingin merokok di rumah masyarakatnya tak masalah.

58 comments

  1. ada, untuk tamu sangat dilarang ngambil foto apapun itu selama di badui dalam, bahkan pas di perbatasan aja saya buru2 meyimpan kamera dan tak memotret apapun itu 😀

  2. Pengamalan yang menarik, biasanya waktu mau ke lokasi Baduy dalam orangnya di seleksi ya Kang, dan masing-masng orang menurut pengalaman saya pribadi itu masuknya beda-beda ijinnya, kalau satu team belum tentu semua bisa masik bersmaan pada hari yang sama, tergantung kepala suunya juga (pu'un) tidak ada photo di lokasi baduy dalamnya ya Kang ? he,, he,, he,, itu photo-photnya sebelum berada di baduy dalam ya ?

    Salam

  3. iya betul mas, waktu itu pernah ada rombongan sekitar puluhan orang, tidak semuanya masuk baduy dalam sebagian besar tertahan dan hanya di baduy luar aja. itu foto2 di perkampungan terakhir baduy luar sebelum menuju baduy dalam mas 🙂

  4. Waduh…jauhnya mereka berjalan kaki untuk ke bandar. Teringat saya akan filem Denias Senandung Di Atas Awan, Denias dari suku Papua berjalan berhari-hari lamanya untuk ke bandar demi mengejar ilmu.

    Tetapi bagaimanakah rupa kaum Baduy ini? Adakah ada pantang larang untuk merakam gambar mereka?

    Jadi, di luar rumah mereka tidak mengalas kaki/ tidak memakai sepatu, tetapi di dalam rumah mereka memakai alas kaki?

  5. oh iya dari cerita di atas nggak ada disebutin gimana tentang anak2 suku Baduy? apa mereka juga sekolah?aku penasaran banget gimana pendidikan di sana. kalau yang punya blog ini merokok nggak?

  6. Kasihan orang baduy. Jaman sudah modern mereka masih tidak mau berubah. Adat sangat kuat mereka pegang. Dengar2, rumah Suku Baduy Dalam tidak boleh bertambah, hanya 40 rumah saja ya ? terus kalau sudah kelebihan, ada yang dipindah jadi suku Baduy Luar, dengan adat yang diperlonggar, bener ngak sih ?

  7. mereka makan same je dengan kitorang ni, takde kedai runcit, jika nak ke kedai tu mereka harus jalan 4 jam baru dah sampai, jauh giler memang tapi fisik mereka tu kuat.

  8. mereka ga ada satupun yang sekolah, makanya itu banyak diantara mereka buta hurup, tapi mereka tahu bahasa indonesia dari tamu2 yang datang ke mereka, aku ga ngerokok dong hehe 🙂

  9. rupa mereka saja je kayak kitorang, tapi mereka tuh cantik cantik aku pun tertarik dengan wanita baduy tu hahaha. tak dibenarkan merekam gambar selama di baduy dalam tapi di baduy luar boleh, tak la mereka tak de sepatu masuk rumah pun tak pakai alas kaki, jadi mereka tu memang tak pakai sandal/sepatu apapun

  10. iya mas satu sisi kasihan tapi itulah yang bikin mereka unik karena keteguhan hati menjaga adat istiadat. emang disana rumahnya juga ga banyak mungkin benarr hanya 40 tapi kalau tidak boleh ditambah saya belum tau juga. orang2 yg di baduy luar biasanya karna menikah dgn bukan baduy dalam juga karena dikeluarkan dari baduy dalam. iya mas kalau udah di baduy luar adanya memang sedikit longgar karena bercampur sama penduduk sekitar dan udah pakai sandal.

  11. Ikut sharing ya. Kalau tentang jumlah rumah yang hanya 40 rumah itu tidak benar, karena jumlah rumah di Kampung Cibeo saja ada sekitar 98 rumah. Kebetulan Sabtu-Minggu 13-14 September lalu saya baru berkunjung ke sana.

  12. hallo!
    salam,… sekedar tambahan lho, untuk bertemu puun sebetulnya gampang, dan iini sedikit bergeser dan beda dengan tahun 1950, sekarang jika ign ketemu puun kita harus menyertakan sebagian uang, dan atau logam perak .. saat itu saya dianjurkn agar memebrikan uang mininmal 250ribu rupiah, beda kan ? ini yg saya herankan, saya berpikir mgkn ada oknum yg memanfatkan ini, bagaimana apakah ad pengalaman serupa perihal bertemu dgn puun?

  13. hallo!
    salam,… sekedar tambahan lho, untuk bertemu puun sebetulnya gampang, dan iini sedikit bergeser dan beda dengan tahun 1950, sekarang jika ign ketemu puun kita harus menyertakan sebagian uang, dan atau logam perak .. saat itu saya dianjurkn agar memebrikan uang mininmal 250ribu rupiah, beda kan ? ini yg saya herankan, saya berpikir mgkn ada oknum yg memanfatkan ini, bagaimana apakah ad pengalaman serupa perihal bertemu dgn puun?

  14. Keren! Saya semakin tertarik dgn suku Baduy dalam. Oiya, kemarin ada 4 org pria suku Baduy dalam dr desa Cibeo yg dtg ke kampus saya, salah satunya ada yg bernama Safri. Setelah baca postingan diatas yg mengatakan bahwa Safri (th.2014) usianya 25, saya jd berpikir jgn2 Safri yg disebut diatas itu Safri yg dtg ke kampus saya dan sempat saya ajak berbincang jg (kata beliau skrg usianya sdh menginjak 26 tahun (2015)).

  15. Keren! Saya semakin tertarik dgn suku Baduy dalam. Oiya, kemarin ada 4 org pria suku Baduy dalam dr desa Cibeo yg dtg ke kampus saya, salah satunya ada yg bernama Safri. Setelah baca postingan diatas yg mengatakan bahwa Safri (th.2014) usianya 25, saya jd berpikir jgn2 Safri yg disebut diatas itu Safri yg dtg ke kampus saya dan sempat saya ajak berbincang jg (kata beliau skrg usianya sdh menginjak 26 tahun (2015)).

  16. Keren! Saya semakin tertarik dgn suku Baduy dalam. Oiya, kemarin ada 4 org pria suku Baduy dalam dr desa Cibeo yg dtg ke kampus saya, salah satunya ada yg bernama Safri. Setelah baca postingan diatas yg mengatakan bahwa Safri (th.2014) usianya 25, saya jd berpikir jgn2 Safri yg disebut diatas itu Safri yg dtg ke kampus saya dan sempat saya ajak berbincang jg (kata beliau skrg usianya sdh menginjak 26 tahun (2015)).

  17. Baduy..
    Sekitar 8-9 tahun yang lalu saya pergi ke Baduy bersama dengan tim Reporter Sekolah dari Radar Bogor. Kebetulan saya sangat suka jalan-jalan ke tempat yang sangat berhubungan dengan alam dan budaya seperti Suku Baduy ini. Waktu itu saya berkunjung kesana selama 4 hari 3 malam. Kami tiba disana malam hari selepas waktu Isya. Pertama-tama Kami pergi ke rumah salah seorang masyarakat yang bertempat masuh di luar Baduy Luar. Karena kalau tidak salah ingat, Kami harus mengurus ijin dulu agar bisa masuk ke Baduy Luar. Setelah itu Kami langsung melanjtkan perjalanan ke Baduy Luar malam itu juga. Kami menginap di salah satu rumah penduduk yang kebetulan masih saya ingat namanya hingga sekarang, Pak Sarfin. Kami menginap satu malam di rumah beliau. Udara disana sangat dingin. Saat pagi hari tiba, kami disuguhkan oleh udara segar yang khas dengan aroma alam. Lalu penduduk yang lain menghampiri kami dan menjajakan jualan hasil tangan mereka sendiri. Mereka menjual berbagai macam gelang-gelangan dengan harga Rp 1000,- per buahnya. Setelah menjelang siang, kami melanjutkan perjalanan untuk ke Baduy Dalam. Sepanjang perjalanan memang kami tidak melihat apapun kecuali pohon-pohon yang sangat banyak, lalu ada pula jembatan dan Sungai. Kami berenang di Sungat tersebut untuk menyegarkan badan yang memang sudah penuh dengan keringat karena perjalanan yang lumayan jauh. Setelah itu kami melanjtkan perjalanan. Satu yang amat sangat saya ingat sampai sekarang, disana ada sebuah tanjakan tiada akhir. Saya sebut demikian karena tanjakan tersebut memiliki anak tangga yang begitu banyak, Bahkan salah satu teman saya sampai mengalami keram di kaki dan terpaksa digendong sebentar oleh pemimpin tim Kami yang lain sampai kami menemukan sebuah Saung untuk beristirahat sebentar. Setelah keadaan teman saya tersebut membaik, kami lanjutkan kembali perjalanan. Kami mendengar beberapa mitos yang bahkan sampai sekarang saya tidak tahu kebenarannya. Mitosnya adalah larangan untuk menggunakan alat elektronik, lalu jika ada seorang penduduk yang menyukai pengunjung maka pengunjung tersekbut tidak akan bisa keluar dari sana. Mungkin mitos itu diberitahukan kepada kami agar kami lebih bisa mengikuti peraturan karena umur kami yang masih belia saat itu. Saat itu kami mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Jaro di Baduy Dalam tersebut dan mungkin Beliau tidak ingin lagi jika kami datang kembali karena kami merobohkan rumah beliau hahahaa Apakah beliau marah saat itu? Tentu saja tidak. Beliau hanya tertawa dengan ramahnya, lalu kami mulai mengobrol tentang adat istiadat disana sampai Hutan Terlarang yang ada di belakang Desa. Seingat saya, Beliau mengatakan Hutan itu hanya boleh digunakan untuk keperluan ibadah saja 🙂
    Sekian cerita saya mengenai Baduy Dalam yang masih melekat dalam ingatan saya sampai saat ini ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *