August 23, 2014 Dede Ruslan 60Comment



“Bangun tidur ku terus hunting

Mungkin kata-kata itulah yang tepat bagi penggila matahari terbit seperti saya, walau pada kenyataannya sangat sulit untuk sekedar bangun apalagi hunting di pagi hari. Berada persis di seberang adam homestay, di daerah Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten. Pantai yang tidak diketahui namanya itupun menjadi alternatif dalam mencari sang surya bersinar.

Pagi yang teramat pagi. Bahkan sang ayam jago pun belum menunjukan nyaringnya. Saya sudah harus berjalan pada sebuah jalanan kecil yang sangat terjal dan turunan curam. Embun indah pagi itu menjadi malapetaka bagi saya karena harus terlepeset oleh licinnya tanah. Untung tidak terlalu parah, hanya saja kamera dan celana menjadi sedikit kotor.

Setibanya di pantai, suasana sangat sunyi dan hening bak seperti berada di pantai pribadi. Saya memang tidak sendiri, ditemani oleh beberapa perahu kecil yang sedang bersandar, juga para anjing yang berlarian kesana kemari. Sepinya pantai berbanding terbalik dengan suasana di seberang sana, tepatnya di tengah laut. Ramai para nelayan yang sedang sibuk mencari nafkah berupa ikan-ikan dilautan. Sebagian kapal dari para nelayan tersebut disandarkan begitu saja di pinggir pantai tanpa ada yang menjaga satupun.

 

Pantai yang landai dengan ombak yang sangat bersahabat. Memang tidak secantik pantai dreamland atau tanjung bira. Tapi bisa dibilang lumayan untuk sekedar berfoto maupun berenang sekalipun. Terlihat gunung kembar dari kejauhan di seberang sana membuat saya bertanya-tanya, apakah itu gunung di sekitar krakatau? mengingat tanjung lesung ini berhadapan persis dengan selat sunda yang memang berdekatan dengan gunung yang pernah meletus pada tahun 1883 tersebut.

Saya pun langsung memulai hunting dan mengeluarkan kamera berikut tripodnya. Dengan setinggan iso dan bukaan yang rendah, akhirnya mencoba memakai tehnik Slow speed walau masih sangat newbie soal kamera.  Memang hasilnya tidak bagus amat lantaran perahu goyang karena gerakan ombak. Yasudahlah sebagai pembelajaran bahwa tidak bisa memakai speed rendah dalam keadaan perahu diatas laut apalagi ombak selalu bergoyang setiap saat.

Matahari sudah semakin meninggi di ufuk timur, seketika saya teringat akan satu hal yaitu UV filter untuk pelindung lensa dari silaunya cahaya matahari. Alhasil mau ga mau harus balik lagi ke dalam homestay. sebelumnya saya sudah menyiapkan beberapa batu sebagai persiapan bila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan termasuk bila dikejar anjing.

 

Luka setelah di bersihkan dengan air
Dan benar dugaan sebelumnya yaitu dikejar anjing, tapi lebih tepatnya sih di gonggongin anjing. Ditengah perjalanan secara tidak sengaja berpapasan dengan tiga ekor anjing liar yang sedang mengacak sampah. Salah satunya dari ketiga anjing tersebut mendadak menggonggong dengan kerasnya seakan-akan mau mengejar, akhirnya saya pun kocar-kacir dibuatnya.

Untuk kedua kali terjatuh lagi di tempat yang sama dan lebih parah. Bersyukur kamera aman, hanya saja tripod dan kaki saya tidak terselamatkan. Mengucur darah segar dari lutut ini begitu juga tripod yang salah satu kakinya hilang entah kemana. Setelah dicari ternyata ada dan untungnya bisa dipasang kembali, fiuh!

 

Pemandangan setelah matahari terbit
Rasa penyesalan pun muncul lantaran saya tidak bisa menikmati matahari terbit dengan indahnya. Padahal sebelumnya sudah bersusah payah untuk bisa bangun pagi. Pemandangan setelah matahari terbit pun memang tidak kalah indahnya hanya saja tidak seindah saat sebelum terbit. Mungkin untuk kedepannya saya harus lebih berhati-hati juga tidak terlalu panik apabila ada anjing yang mendekat. Sedikit berpikir positif mungkin saja mereka ingin mengajak untuk breakfast bersama, mungkin. Hanya saja bahasanya tidak di mengerti oleh saya.

60 thoughts on “Menanti Sunrise dari Tanjung Lesung

  1. Aku paling suka kalo berada di pantai yang sunyi dan hening kayak gini… Hehehe. kalo bawa kamera emang gitu ya, yang penting kamera aman, biar deh, kaki yang luka 😀
    Aku juga pernah kaya gitu soalnya.. :D:D

  2. Hahaha potografer sejati memang harus begitu mas, bersusah-susah dahulu untuk mendapat gambar yang OK. Penuh perjuangan ya. Aku juga pernah nih digonggongin anjing liar pas pagi2 mau motret sunrise di Pura Batu Bolong, Mataram, Lombok 🙂

  3. Walaupun Pantai Tanjunglesung posisinya di Barat dan Matahari terbit munculnya di sebelah timur. tapi hasil jepretan Mas Dede tetap bagus. Pilih spotnya dapat banget. Oh ya Mas Dede, orang bilang kalau dikejar anjing itu ngak boleh lari nanti dikejar. jadi harus jongkok..gitu deh. kalau bisa sambil jongkok sambil julurin lidah..panjang-panjang..hehe.. kidding.

  4. Dirimu benar-benar mengalami petualangan yang mendebarkan di pagi hari ini ya Mas Bro? Dua kali jatuh dan sekali dikejar-kejar anjing. Saya… mestinya iba atau salut ya? Hahaha. 😀

    Sekedar tips motret sunrise laut dari saya Mas Bro. Waktu pemotretan idealnya 05.00 – 06.00, pas matahari belum terik. Kalau obyek utamanya perahu dengan teknik slow speed, kecepatan rananya jangan kelamaan karena perahunya rawan goyang-goyang. Sebenernya sih, shutter speed bisa disesuaikan tergantung besar goyangnya perahu. Tapi ya sekitar 1 – 3 detik itu aman untuk perahu yang tidak aktif bergoyang. (kayak dangdutan aja :p)

    Kalau misal cuaca mendung, bisa cari alternatif dengan menghilangkan elemen langit. Semisal fokus memotret obyek batu karang dan laut. Nah, yang ini silakan main slow speed selama mungkin, karena batu karang kan tidak goyang-goyang.

    Filter UV tidak terlalu banyak membantu Bro pas motret sunrise. Filter yang biasa jadi senjata sunrise itu filter ND (untuk slow speed air laut), filter gradual ND (untuk mengimbangi cerahnya langit dan permukaan laut), dan filter CPL (untuk menghilangkan refleksi cahaya matahari yang kena air laut). Kalau buat saya sih membawa filter CPL sudah cukup, karena saya nggak begitu suka main slow-speed pas pagi buta, hahaha. 😀

    Sekian mas Bro semoga berkenan tips motret dari saya dan selamat bertualang lagi nyari sunrise. Salam! 😀

  5. Hallo 🙂

    Ada info untuk kamu.
    Lomba blog “Why Macau”. Berhadiah jalan-jalan gratis ke Macau dan iPhone 5c! Klik http://bit.ly/WhyMacau

    Caranya mudah, kamu cukup membuat artikel berisi keinginanmu untuk pergi ke Macau. Sertakan foto atau video agar tulisanmu lebih menarik. Topik nya bisa tentang kuliner, objek wisata, kebudayaan, dan tempat populer di Macau. Gampang kan?

    Ayo ikutan sekarang! Batas akhir submit sampai 30 September 2014.

  6. Mas.. kalau digongongin anjing cuekin aja mas.. jangan natap matanya.. dikira nantangin.. jalannya santai aja jangan sambil lari..dan kalau dikejar anjing.. jangan lari juga mas.. diem aja ditempat.. setelah anjing datang dia cm akan ngendus2 kita trs juga pergi lagi.. setelah dia pergi mas jalan saja biasa pelan2 jangan lari lagi.. dikira mas ngajak main kejar2an mas.. dan anjing ga bakal gigit kita kok..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *