Ga pernah terbayangkan sebelumnya saya akan pergi ke ibukota provinsi paling timur indonesia, yaitu Jayapura. Membayangkan Papua saja sudah berdebar rasanya, pikiran saya langsung tertuju kepada Malaria yang katanya masih marak disana, juga dari sisi keamanannya yang memang kurang stabil.

Sehari sebelum berangkat, saya disibukan untuk membeli obat anti Malaria dan lotion antik nyamuk, selain itu juga saya juga sempat browsing melihati jadwal penerbangan.

“Apa! penerbangannya malam semua?” ucap saya dengan nada sedikit panik.

Bayangkan saja mayoritas penerbangan hanya dimulai pada malam bahkan sampai dini hari. Yang agak bikin kicep waktu tempuh bisa sampai 8 jam lamanya.  Apa yang harus saya lalukan berada selama itu dipesawat? dan saya pun hanya pasrah manakala tidak ada fasilitas musik atau video player.

Bandara Soekano Hatta
Bandara Soekano Hatta

Ramainya penumpang di siang hari seketika berubah ketika malam. Itulah yang saya alami ketika tiba di Bandara Internasional sebesar Soekarno Hatta. Sepi banget, bahkan hanya terlihat beberapa penumpang yang duduk diruang tunggu bandara. Dinginnya ruang tunggu seakan menghantui saya yang masih harus menunggu dua jam lamanya untuk berangkat. Akhirnya saya pun mencari udara hangat diluar sembari mencari cemilan pelepas lapar dan dahaga.

Tepat pada pukul 01.45 dini hari, akhirnya saya berangkat menuju kota mutiara di ujung timur Indonesia yaitu Jayapura. Lamanya 8 jam perjalanan masih menghantui saya yang notabene ga pernah jalan jauh selama itu. dan bersyukurnya, terdapat fasilitas music atau video player membuat perjalanan yang sangat lama tersebut terasa menyenangkan, ditambah selimut yang hangat serta bantal membuat saya semakin pules.

Transit yang pertama : Makassar

Tanpa sadar sudah dua jam berlalu sungguh cepat manakala saya sedang asyik-asyiknya terlelap. Awak kabin memberitahu bahwasanya kita sudah tiba di Pemberhentian pertama yaitu Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Membayangkan kota yang dulunya bernama Ujung Panjang ini, saya pun teringat akan Sop Konro dan Coto Makassarnya, apalagi dimakan pakai ketupat disamping Pantai Losari, duh sedap! tapi sayangnya para penumpang yang hanya transit dan masih melanjutkan perjalanannya hanya diberi waktu sektiar 30 menit lamanya.

Kesibukan sangat jelas terlihat manakala para penumpang yang bertujuan Makassar satu demi satu turun dari pesawat, sedangkan penumpang yang masih penerbangan selanjutnya dipersilahkan menunggu di ruang tunggu atau di dalam pesawat. Petugas bandara pun datang menghampiri saya yang sedang duduk sendirian aja di kursi dekat jendela. Rupanya penumpang yang transit harus menunjukan tiket boarding pass sebagai bukti bahwa masih meneruskan penerbangan selanjutnya. Sembari menunggu waktu transit yang cuman setengah jam, saya pun kembali melanjutkan istirahat yang tertunda Zzz.

Transit yang kedua : Timika

Dua jam berikutnya, tibalah di tempat transit yang kedua yaitu di Timika. Nama Bandaranya unik, Mozes Kilangin Airport. Sejenak saya pun melihat ke jendela, Bah! matahari sudah pagi rupanya. Membayangkan Timika membuat rasa penasaran saya pun memuncak. Ingat timika pasti ingat Freeport.

Saking penasaran dengan timika, saya pun ikut turun dengan penumpang yang memang bertujuan ke Timika. Dengan menaiki bus khusus bandara, saya pun melangkah demi langkah dan akhirnya tiba di pintu masuk kedatangan. Setibanya di pintu kedatangan saya pun langsung masuk ruang tunggu boarding. Suasana berbeda sangat ketara ketika saya berada di ruang tunggu boarding, deretan poster dan spanduk tentang Freeport sangat mendominasi hampir seisi Bandara. Setelah cukup puas hampir semua isi poster, tiba waktunya saya untuk kembali ke pesawat yang sudah terisi bahan bakarnya. Walau hanya 30 menit transit, tapi cukup menyenangkan manakala saya bisa melihat lebih dekat dengan Timika walau hanya dari bandaranya saja, dan yang paling penting bisa update status dimedia sosial :p

 

Tibalah di Jayapura City

Awak kabin memberitahu bahwasanya beberapa menit lagi kita akan tiba di Jayapura. Perjalanan yang sangat singkat dari Timika menuju Jayapura, hanya memakan waktu tidak sampe 1 jam lamanya, atau sekitar 58 menit saja.

Sembari menunggu landing, saya pun sejenak melihat ke jendela kecil pesawat. Disana ada Pantai, bukit bahkan danau terpampang jelas melukiskan bagaimana indahnya alam di Papua, Lalu dimanakah posisi landasan dari bandara tersebut? dan setelah melewati danau yang luas itulah akhirnya pesawat dapat landing dengan sempurna. Danau tersebut bernama sentani, yang ternyata menjadi nama utama dari Bandara tersebut.

Perjalanan belum berakhir saudara, saya masih harus melewati bukit-demi bukit untuk sampai ke kotanya Jayapura. Jarak antara bandara dan kota Jayapura lumayan jauh atau sekitar +/- 50 KM. Jarak termpuh yang biasa dilalui sekitar satu jam (tanpa macet lho). Okelah, Sembari melanjutkan perjalanan saya pun fokus memandangi deretan bukit demi bukit, danau dan juga pantai yang terbentang disepanjang jalan. “Memang ya alam di Papua ga ada duanya men!” ucap saya selama dalam perjalanan.

17 comments

  1. Belum pernah ke Jayapura, tapi pernah stay di pulau biak. Alam papua itu indah, kalau aku pribadi cinta mati sama pantai2nya. Pengalaman 7 jam naik pesawat hercules daru biak ke malang itu super sekali. Berasa naik angkot tapi angkotnya terbang, hahahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *