Lain-lain

5 Hal Menyebalkan Saat Traveling

Menyebalkan? mungkin itu kata yang sering diucapkan ketika sesuatu terjadi diluar perkiraan yang sudah dibuat sebelumnya. Kesel? pasti, tapi dibalik itu semua bagaimana kita bisa mengatasi semua yang berada diluar perkiraan dengan sebaik mungkin selama traveling. Mungkin banyak yang menyebalkan lainnya tapi inilah beberapa rangkuman 5 hal menyebalkan saat traveling versi saya :

CNEJIUsVEAAVMEk

CNdS2cDUEAAftDg

1. Ketinggalan Pesawat

Enam Hari sudah saya menghabiskan waktu di kota yang sering dinamakan Gudeg ini, rasanya seru dan sangat berkesan. Malam harinya sebelum pulang ke ibukota, saya sempat berjalan-jalan disekitaran alun-alun Kidul Keraton untuk menikmati wedang ronde yang hangat dengan semangguk mie yang lezat sembari bertemu dengan teman lama yang memang tinggal di Yogyakarta.

Karena penerbangan pagi sekitar pukul 07.25, saya memilih untuk satu kamar dengan teman meminimalisir resiko telat. Dan tepat jam 05.00 pagi saya dan teman saya sudah bangun dan bersiap, namun masih tunggu-tungguan dengan yang lainnya. Alhasil yang harusnya jam 06.00 sudah jalan, kami baru jalan jam 06.40.

Diperjalanan menuju Bandara entah kenapa sangat macet mungkin karena jam berangkat kerja, firasat kami semua sudah buruk. Sempat berusaha untuk check in online bahkan telpon ke call center dan hasilnya sudah tidak bisa check in online, petugas bilang masih ada waktu beberapa menit lagi untuk check in di bandara. Disaat ini saya hanya berdoa dan pasrah dengan semua hal yang terjadi.

Setibanya di bandara, tanpa pikir panjang kami langsung mengambil barang dan berlari-larian menuju ruang check in. Benar saja, begitu sampai petugas bilang waktu check in sudah habis, lalu kami diarahkan untuk ke petugas tiket dan jika mau tetap berangkat dipenerbangan selanjutkan diharuskan menambah 400ribuan lagi untuk mengganti class. Beruntungnya tiket yang saya pegang class Y yang artinya bisa mengganti ke jadwal penerbangan selanjutnya tanpa harus membayar, oh tuhan terima kasih!

Namun teman yang lain memilih untuk naik kereta, dan akhirnya kami berpisah. Saya duduk ngemper di sebelah tempat check in, melihat lalu lalang kesibukan orang di bandara. Karena battery sudah mulai habis saya memilih untuk menunggu di warung seberang bandara sampai pukul 09.30, dan begitu balik lagi keruang check in ternyata saya masih harus menunggu satu jam penerbangan yaitu pukul 11.00 siang karena tidak ada seat.

tak berhentinya berharap, sewaktu kembali ke ruang check in bandara pada pukul 11.00 akhirnya petugas check in mengkonfirmasi bahwa tersedia satu seat untuk saya. itu artinya saya bisa balik ke Ibukota Jakarta, Akhirnya! 😀

2. Salah Naik Kereta

Berawal dari kunjungan ke baduy pada pertengahan tahun 2014, kami yang saat itu berjumlah 5 orang baru saja turun dari hutan di kampung baduy dalam untuk balik menuju Ibukota Tercinta. Sesudah santap siang yang kesiangan, kami langsung bergegas untuk pergi menuju stasiun karena khawatir kereta akan tiba sebentar lagi.

“Ayo buru yang mau ke Tanah Abang keretanya sebentar lagi berangkat” teriak petugas kereta kepada kami yang sedang jalan terleha-leha.

Mendengar teriakan petugas tersebut kami langsung panik bahkan lari-larian menuju gerbong terakhir kereta itu. Tak lama setelah naik, kereta langsung berangkat menuju stasiun Tanah Abang. Sembari mencari bangku, ada keanehan yang muncul karena tempat yang harusnya kami duduki sudah ada penumpang lain, lho kok?

Begitu lihat tiket lebih rinci, duh ternyata seharusnya kami berangkat sekitar satu jam lagi itu artinya kami salah naik kereta!! akhirnya memilih untuk duduk diantara dua gerbong kereta sembari menunggu petugas tiket datang yang sedang memerika tiket.

“kok duduk disini?” petugas tiket dengan lantangnya menanyakan kepada kami

“salah naik kereta pak” jawab saya dengan nada sedikit melas

Setelah memeriksa tiket kami satu persatu, ternyata masih tersisa 4 tiket lagi dikereta yang kami naiki, itu artinya tidak harus turun di stasiun terdekat, yey! namun karena kami berlima tidak mungkin meninggalkan satu orang turun sendirian. Dengan baik hati, petugas tiket memperbolehkan satu orang tersebut untuk naik kereta sampai stasiun terakhir. 3 jam kemudian kami tiba di stasiun tanah abang lebih cepat dari waktu yang seharusnya ditiket, bersyukur akhirnya bisa sampai juga dan ga diturunin di stasiun terdekat hehe 🙂

3. Bus Mogok

Rasa senang sewaktu habis mengunjungi Green Canyon seketika Buyar setelah bus yang kami tumpangi mogok di sekitaran tanjakan Nagrek. Tau nagreg kan? Itu tuh tanjakan yang selalu buat heboh setiap mudik lebaran. Selalu jadi tempat termacet dijalur selatan, walau akhir-akhir ini sudah sedikit lebih baik karena adanya jalur lingkar luar nagreg.

Keputusan supir bus untuk berhenti di tepian jalan memang sudah tepat, pasalnya ditengah tanjakan curam nagreg, lampu di dalam bus sempat mati dan laju bus menjadi sangat lamban bahkan hampir tidak kuat menanjak. Panas dingin deh pokoknya saat ini, bawaannya pengen keluar dari pintu bus.

Setelah diperiksa terjadi kendala di mesinnya yang memaksa bus harus berhenti total ditepian jalan. Kami para penumpang diharuskan untuk menunggu bus pengganti yang datang dari Tasikmalaya.

Udara dingin, angin kencang datang silih berganti menghampiri kami yang sedang menunggu bus pengganti. Sembari menghangatkan badan, saya mencoba untuk sekedar ngopi diwarung kecil tak jauh dari lokasi bus mogok. Kesempatan menunggu itu pula kami pakai untuk sekedar canda dan gurau cerita selama diperjalanan sampai akhirnya kami merasa khawatir karena sudah 4 jam lamanya bus tidak datang juga. Satu demi satu penumpang penumpang mengganti busnya dengan yang lain dan itulah yang membuat kami sedikit galau, pasalnya Pagi hari sekitar jam 8 teman saya harus segera masuk kuliah, ditambah lagi ujian tengah semester, kalau saya sih memang jadwalnya libur jadi tenang aja.

Baru aja berniat naik bus lain, eh datang juga bus pengganti yang sudah dinanti-nanti. Rasa kesal karena harus menunggu lama terlupakan dan kami memilih duduk manis dengan tenang di dalam Bus. 12 jam lebih perjalanan yang cukup melelahkan dari Tasik menuju Jakarta. Begitu sampai, teman saya langsung bergegas untuk melanjutkan kuliah dari pagi hingga sore, setelah selesai mereka tepat karena belum tidur semalaman.

4. Kamera dan Gadget Kecebur Air Laut

Gili Trawangan, duh kalo inget satu pulau yang satu ini bener deh mau balik lagi dan lagi, pasalnya disini saya merasa benar-benar freedom, selain bebas dari kendaraan, disini bisa party dimanapun hehe, pokoknya asik deh. Kemeriahan malam di gili tak semeriah saya disore itu. Berawal dari hoping Island di sekitaran Gili Air, peristiwa itupun terjadi. Kamera beserta gadget saya taruh begitu saja pada sebuah topi dan diselipkan pada bagian bawah kapal, disana memang tersimpan berbagai barang-barang seperti handuk dan baju.

Hoping island pun selesai, akhirnya kami pun pergi menuju gili air untuk sejenak makan siang sebelum melanjutkan perjalanan menuju Gili Trawangan. Ombak sangat keras menghantam perahu yang kami naiki sehingga air perlahan menciprati kami yang duduk dipinggir perahu.

Selang beberapa menit, tiba juga akhirnya dipulau yang cantik ini (Gili Air), memang tak terlalu semeriah gili trawangan dan terlihat lebih sepi. Saya pun mengambil kamera untuk memotret keindahan pulau yang berada digugusan 3 gili ini. Sembari mencari, saya pun terkejut begitu ditemukan mereka (Kamera dan Gadget) sudah mengapung tak berdaya beserta topinya. Lalu saya pun berusaha untuk mengeringkan kedua benda tersebut sembari menyalakan kembali dan hasilnya benar-bear mati.

Beberapa hari setelah tiba di Jakarta, saya pun langsung mencoba service dan hasilnya tidak mungkin bisa dibetulkan, kalaupun bisa harganya seperti beli baru, itu karena korosi yang terlalu parah terkena air laut dan begitulah kenangan manis di Gili Trawangan 🙁

5. Jatuh Tertimpa Motor

Rasa penasaran akan Banten Lama akhirnya terbayarkan sudah. Saya memberanikan diri ke Banten Lama bersama teman-teman seperjuangan kuliah. Bahkan saya belum pernah merasakan touring jauh naik motor ditambah kondisi motor yang tidak terlalu baik karena ban belakang yang sedikit botak membuat licin ketika melewati hujan. Tour keliling banten lama ini memang sudah lama di idam-idamkan dan akhirnya sukses juga, walau tidak sesukses jalan pulangnya.

Sore itu memang hujan deras menerpa kami di sekitar perbatasan Kab. serang dan Kab. tangerang. Jalanan yang tadinya sepi mendadak sangat padat (macet) disimpangan jalan. Sewaktu sedang menyalip-nyalip kendaraan lain, tiba-tiba motor tergelincir dan saya tidak bisa mengendalikannya, udah jatuh tertimpa motor pula. Teman saya lebih beruntung karena dia sempat loncat ketika tergelincir.

Sempat membuat heboh pengemudi lain, akhirnya satu persatu dari mereka menghampiri saya yang kelihatannya tak berdaya ketimpa motor. Tapi saya memaksakan kehendak untuk mengembalikan motor ke posisi stabil tanpa bantuan orang. melihat kondisi yang tidak parah, saya pun kembali melanjutkan perjalanan. Sejenak melihat lutut dan terdapat robek yang lumayan besar di jas hujan yang saya pakai.

Motorpun tetap melaju hingga tiba di daerah Cikupa, Kab. Tangerang. Sewaktu sedang meluruskan kaki, saya baru sadar tidak hanya jas hujan yang robek tapi celana jeans pun ikutan robek bahkan lutut pun terdapat luka lumayan lebar dengan mengeluarkan darah terus menerus. barulah saya merasakan sakit yang luar biasa sampai sempat sedikit berteriak kesakitan aaak! terlebih saat dibersihkan dan diberi betani sakitnya makin – makin. Setelah lumayan pulih, akhirnya saya dan teman lainnya kembali melanjutkan perjalanan ke Ibukota Jakarta.

Menyebalkan atau tidak, itulah pengalaman yang pernah saya alami ketika sesuatu yang tidak diharapkan terjadi, namun semua kejadian tersebut mungkin ada hikmahnya dan pelajarannya walau emang sedikit menyebalkan 😛

64 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.