September 27, 2017 Dede Ruslan 8Comment

Sedikit mengulik sejarah kopi di Indonesia yang ternyata kolonial belanda yang memang memprakarsainya. Itu semuanya bermula ketika kopi yang dibawa dari Malabar, sebuah kota di India dan dibawa menuju Indonesia melalui Pulau Jawa pada tahun 1696. Lambat laun, tanaman baru ini akhirnya berhasil dibudidayakan di Jawa sekitar tahun 1714-1715. Hingga pada akhirnya, budidaya tanaman ini dapat ditemukan di hampir seluruh wilayah Indonesia mulai dari Sumatera, seluruh pulau Jawa, Bali, Sulawesi, Flores bahkan hingga ke Papua [sumber].

Tentu banyak diantara kita sudah tidak asing lagi dengan kopi-kopi di Nusantara ini. Mulai dari kopi sigli dan gayo di Aceh, kopi lampung, kopi toraja, kopi luwak, bahkan hingga kopi papua. Uniknya, setiap daerah mempunyai ciri khas kopinya masing-masing. Itulah yang menjadi pembeda kopi daerah satu dengan yang lainnya. Entah kadar keasamannya, pahitnya atau lainnya.

Saat ini, kopi tak hanya menjadi minuman dikala ngantuk berat atau penambah semangat disaat lagi malas – malasnya, lebih dari itu sekarang seakan sudah menjadi gaya hidup terutama kaum urban. Banyak berjejeran deretan kafe yang menawarkan kopi dengan citarasa yang kekinian dengan sedikit perubahan rasa juga inovasi tampilan.

Berbeda dengan yang lainnya, salah satu kafe di daerah kemang ini yaitu Kopi Selasar justru masih mempertahankan citarasa tradisional dan khas nusantara. Yup, dengan begitu diharapkan dapat memperkenalkan kopi khas di Indonesia ini yang banyak beragam.

Pada awalnya, Ibu Astried Swastika sebagai owner dari kopi selasar bercerita bagaimana pada awalnya fahri, sang barista lokal ternyata bisa membuat beragam kopi khas dari nusantara. Ya, awalnya sih saya coba kopi buatannya dan ternyata enak, banyak orang yang bilang kopi buatannya enak juga dengan teh tariknya, dan pada akhirnya saya membuat kopi selasar ini, sekaligus untuk memperkenalkan kopi khas nusantara khususnya Aceh, ujar Bu Astried kepada kami para blogger yang sedang duduk santai  di sore hari sambil menyeruput kopi sanger di kedainya.

Ada beragam jenis menu yang tersaji, dan yang saya minum ini adalah kopi sanger yang merupakan campuran dari kopi hitam, susu kental dan gula. Cara membuatnya juga unik, karena tidak memakai mesin dan cukup memakai alat tradisional seperti penyaring, Teko untuk membuat teh tarik, dan lainnya. Rasa kopinya juga sangat bergantung pada hati sang barista lokal yaitu Fahri, jadi bilamana sedang murung atau gelisah pasti akan berbeda rasanya ketika sedang ceria ataupun senang.

Teh tarik merupakan signature dari kopi selasar ini khususnya Es teh tarik. Selain segar, meminumnya dikala panas dan terik dapat menambah semangat. Ada juga kopi tarik yang cara pembuatannya tidak beda jauh dengan teh tarik, hanya saja berupa campurannya berupa kopi. Selain itu ada salah satu menu favorite saya yaitu teh leci, yang rasanya ada asem, manis, cinta deh pokoknya. Tempatnya juga nyaman dan asri alias teduh karena banyak pohon, cocok banget untuk ngumpul-ngumpul sama teman atau sahabat.

Selain kedai, kopi selasar juga bisa mobile lho. Namanya adalah kopi keliling (koling). Jadi maksudnya koling adalah adalah menyajikan kopi dalam suatu acara atau event, ga hanya kopi atau teh tariknya aja, tapi sekaligus menyuguhkan atraksi barista lokal dalam membuah kopi ataupun teh tariknya yang harus ditarik-tarik sehingga menarik banyak orang untuk mencobanya.

Bagi kalian pengguna setia Gojek, pas banget nih karena Kopi Selasar sudah bisa dipesan melalui Gofood lho, jadi semakin mudah ya menikmati kopi khas nusantara hanya dengan genggaman smartphone aja. untuk harganya juga variatif, mulai dari Rp. 18.000 sampai Rp. 25.000 . waktu bukanya mulai pukul 10.00 pagi sampai 6 sore dan buka setiap selasa – minggu dan hari senin tutup.

Kopi Selasar

Jl. Kemang Timur XV No.99, Jakarta Selatan [maps]

Buka : hari Selasa – Minggu, jam 11 pagi – 5 sore [Senin tutup]

No Telepon 0816 1777 9826

Instagram : @kopiselasar_id

8 thoughts on “Kopi Selasar, Citarasa Kopi Khas Nusantara

  1. Wah ada teh tarik juga, ya? Lumayan banget buat saya yang kebetulan tidak ngopi, hehe. Betul juga ya, meski kopi itu awalnya bisa dibilang barang impor, namun dalam perjalanannya di Indonesia, kopi sudah mendarah daging. Ia bertransformasi dan mendapat ciri khas tanah air Indonesia. Kopi sudah jadi kekayaan budaya yang patut kita klaim sebagai milik sendiri. Tentunya hanya untuk kopi khas Indonesia, sih. Jadi pengen jalan-jalan ke kafe itu, hehe. Apalagi kalau ditraktir #kodebanget.

  2. Sekarang konsep kopi keliling di beberapa kota mulai bermunculan, pun dengan memberdayakan teknologi untuk pemesanannya. Aku suka kopi-kopi dari Nusantara, walau tidak tiap hari menyeduh kopi; minimal seminggu sekali sih.

    Menyenangkan kala kita bisa menikmati kopi di kedai sembar berbincang dengan baristanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *