October 13, 2017 Dede Ruslan 26Comment

Sebagai anak backpacker (katanya), berkemah adalah salah satu hal yang kudu/wajib dilakukan untuk menghemat pengeluaran, lebih dekat dengan alam, dan juga biar terlihat liar kayak tarzan. Karena bisa jadi dengan berkemah, jadi ga perlu lagi mengeluarkan uang untuk penginapan, juga lebih praktis karena bisa didirikan dimanapun bahkan di dalam air sekalipun (seperti di umbul ponggok).

Niat kami untuk berkemah di pulau akhirnya kesampaian juga. Setelah melalui berbagai macam drama, mulai dari ribut dengan salah seorang di group komunitas karena kami disangka mencontek itinerary yang dia buat, dan karena jumlah peserta yang ikut sangat sedikit, saya sampai berpikir ulang untuk ikut. Bahkan saya sempat membatalkan perjalanan ke pulau. Setelah diyakinkan (dipaksa) oleh noviar, akhirnya saya mencabut niat batal itu.

Sehari sebelum berangkat, saya dan alief disibukan untuk menyewa tenda, matras, nesting dan membeli logistik. Emang sih ada miscommunication diantara kita, karena teman-teman lainnya ga terinfo soal pembelian logistik, jadi hanya kami berdua yang mempersiapkannya. Dan ini juga dadakan banget, padahal besok pagi buta udah berangkat. Karena ga tau harus beli apa, jadi cuman ada beberapa bungkus sosis, bumbu nasi goreng, gas dan berbagai snack mecin untuk bekal diperjalanan.

Seperti biasa, saya telat bangun (lagi). Teman-teman seperjalanan udah khawatir aja karena 50% logistik saya yang bawa. Beruntung sih ga telat-telat banget, setidaknya pas dateng teman-teman udah ada di kapal dan kayaknya beberapa menit lagi mau berangkat. Tiga jam lamanya perjananan membuat kami melakukan berbagai cara untuk mengatasi kebosanan. Mulai dari menaiki dek, berkeliling, berfoto, becanda gurau sambil cerita-cerita masa lalu yang kelam.

Nasib sial menimpa kami, karena pulau yang akan dikunjungi yaitu pulau air ternyata sedang tidak menerima kunjungan wisatawan. Alhasil, pulau semak daun menjadi pilihan satu-satunya. Memang letak kedua pulau ini tidak seberapa jauh, mungkin jaraknya seperti dari senayan menuju ke pakubuwono.

The first thing to do ketika tiba di pulau adalah mendirikan tenda. Saya ingat betul, terakhir mendirikan tenda itu saat masih aktif di pencinta alam zaman SMA dulu. Tapi anehnya kali ini skill saya mendirikan tenda luntur seiring berkembangnya zaman now dan bertambahnya usia. Dari kami semua, ga ada yang berpengalaman mendirikan tenda sama sekali. Saking awamnya, sampai berkali-kali salah mendirikan tenda. Mulai dari flyernya kebalik. patok yang salah, tongkatnya ketuker-tuker. Lalu datanglah endah penolong kami semua. Akhirnya kami diajarkan bagaimana cara mendirikan tenda yang baik dan benar sampai akhirnya berdiri kokoh.

Setelahnya, kami pergi menuju pulau air. Ga sampai masuk ke pulaunya sih, hanya beberapa meter dari sana. Dan sudah ada beberapa kapal dari pengunjung lain yang ingin snorkling juga. Walau harus berbagi keindahan dengan mereka, tapi setidaknya saya puas melihat terumbu karang yang masih agak terjaga. Saking ga mau pulangnya, saya sampai tidak sadar sudah berenang bahkan menjauh dari kapal, beruntung ada teman saya yang teriak bahwa sudah waktunya balik karena gelombak ombak sudah semakin tinggi.

Karena kelaparan sehabis snorkling, tiba waktunya untuk membuka logistik dan mulai memasak. memang ini bukan pengalaman pertama saya memasak, setidaknya dulu sudah pernah memasak air, mie instan, bikin nasi goreng pakai bumbu instan, jadi tinggal oseng-oseng aja. Tapi beda ceritanya kalau pakai nesting.

Dengan sangat percaya diri saya mencoba menyalakan api di nesting dan ternyata gagal total. Apinya ga mau nyala, padahal gasnya sudah terhubung. lalu datanglah teman saya mencoba membantu sebut aja namanya awam. Emang sih nyala apinya tapi makin lama apinya malah makin besar dan ga ada satupun yang bisa padamin apinya dong. Akhirnya Endah turun tangan untuk membantu memadamkan api yang lagi berkobar-kobar itu. Karena kesalahan tadi, gasnya menyusut drastis. Dan saya pun menyesal karena cuman beli satu gas doang. Saya kira kan cukup ternyata baru sehari dipakai aja udah abis. Beruntung lagi nih, Endah bawa gas cadangan dan dia emang udah nebak kalau nanti bakal kehabisan gas, gile backpacker banget kan.

Disaat beberapa teman-teman yang lain sedang menikmati sunset, saya mencoba memasak beberapa sosis dibumbui mentega. Enak sih (menurut saya), tapi makin lama rasanya makin aneh gitu, ya akhirnya saya coba habiskan sendiri aja biar ga ketahuan kalau rasanya ga enak.

Malam itu memang ga kayak biasanya. Angin bertiup sangat kencang bahkan seperti badai, membuat tenda kami yang kokoh sampe bergoyang keras. Saat itu kami sedang menyiapkan makan malam. Karena angin bertiup sangat kencang, salah satu teman saya malah memindahkan nesting dalam keadaan menyala kedalam tenda, duh Ojaan! untung ga kebakaran. Akhirnya biar api tetap menyala, flyer tenda kami cabut untuk menutupi angin sehingga api tetap menyala.

Walau sangat sederhana karena cuman terdiri dari nasi goreng instan, sosis, sarden, ditaburi snack mecin, beberapa potong nugget (dari tetangga sebelah) dan dibumbui saos botolan juga kecap (itupun dari tetangga sebelah karena lupa beli), makam malam kali ini nikmat banget. Mungkin karena bareng-bareng, ditambah lagi kelaperan, apapun makanannya asal halal hajar bleh

Makin sedikit makin hangat, mungkin itulah yang tergambarkan bagaimana suasana malam begitu hangat disaat ombak dan angin laut yang semakin deras. Setelah makan malam, kami nyanyi bareng, cerita pengalaman masing-masing sambil melipir ke tetangga untuk bermain uno. Tetangga baru kami sebenarnya teman seperjalanan juga walau beda group share cost.

Seakan tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, besokannya kami sudah bisa menyalakan nesting sendiri, memasak dan mempersiapkan makan pagi. Ya, walau cuman masak mie instan doang tapi setidaknya ada kemajuan. Kami juga sudah bisa merapihkan tenda, emang tidak sesulit memasangnya karena tinggal copot-copot aja, tapi menggulungnya menjadi sangat rapih butuh skill tinggi juga lho.

Dan akhirnya kami harus meninggalkan pulau semak daun untuk bertolak menuju ibukota. Sedih sih, tapi lebih sedih lagi karena besok hari senin dan harus beraktifitas kembali. Tapi setidaknya kami belajar banyak apa artinya backpacker sesungguhnya. Bukan sekedar label hidup murah, irit dan ransel dipunggung. Bahkan lebih dari itu saya musti banyak belajar caranya mendirikan tenda, menyalakan api di nesting, memasak yang enak untuk diri sendiri dan orang lain juga mempersiapkan logistik dengan penuh kesiapan dan perhitungan matang sehingga tidak menyusahkan dikemudian hari.

 

All Photos shooted by : Endah & Dwi

26 thoughts on “Inilah Pengalaman Pertama Berkemah di Pulau

  1. 2016 kmrin smpat kemah di cisauk, bangun tenda sendiri seru karna gak langsung jadi, ada slah posisilah atau gak kenceng patoknya jdi copit lagi. Tp kita beljar kerjasama dan bersabar.

  2. Hmmm… jadi ingat waktu zaman2 SMP ini. Berkemah ditemani nyamuk-nyamuk nakal dan deburan ombak. Duduk di pinggir dermaga sembari memandang bintang gemintang. Punggung bertemu punggung. Hahahah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *