December 5, 2017 Dede Ruslan 7Comment

Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam lebih dari Jakarta, akhirnya kami tiba di sebuah desa yang berada persis di kaki gunung Gede Pangrango. Namanya adalah Desa Gekbrong, Cianjur, Jawa Barat. Beberapa penduduk desa rupanya sudah menanti kehadiran kami yang memang molor satu jam lebih lambat dari rencana awal. Tanpa menunggu lama, kami pun disambut oleh tarian tradisional yang kelihatannya mirip pencak silat ini.

Buah Paprika

Selain tarian daerah, kami juga disambut beberapa makanan seperti leupet, kacang rebus dan paprika. Kebetulan disini memang penghasil paprika, sama seperti daerah Malang dan Bandung yang berada diatas ketinggian 1000 mpdl. Namun Paprika disini bisa dibilang sedikit lebih baik ketimbang kedua daerah tadi. Karena pola tanam dan pengairan yang menggunakan 100% bahan alami tanpa produk kimia buatan.

Masyarakat desa memang sudah tidak lagi menggunakan pestisida kimia, melainkan menggantinya dengan yang lebih alami. Pupuknya juga sudah menggunakan kompos. Efeknya sangat berasa, terutama untuk air yang diserap oleh tanaman dan lingkungan sekitar.

Sehabis makan siang, kami diajak menuju wilayah konservasi hutan Gunung Gede Pangrango. Kehadiran kami disana bukan jalan-jalan semata, tapi kami mempunyai misi mulia yaitu menanam pohon. Program tersebut merupakan bentuk kepedulian AQUA lestari untuk menjaga kelestarian hutan Gunung Gede Pangrango dan keberlangsungan mata air yang penting bagi kehidupan masyarakat sekitar. Selain penanaman pohon, AQUA lestari juga mengadakan program  berkelanjutan di Kecamatan Gekbrong, Cianjur seperti peningkatan akses air bersih, sanitasi dan higienitas dan program pengembangan pertanian terintegrasi juga edukasi bagi para petani dalam pengelolaan air untuk perkebunan.

Jarak termpuh untuk menuju ke wilayah konservasi hutan memang ga jauh. Baru berkeringat sebentar saja sudah sampai. Tepat di tepi jalanan kecil saya menaruh pohon yang sudah ditempel nama dan scan barcode sebelumnya. Barcodenya sendiri berfungsi untuk data pohon yang ditanam, dan masa tumbuhnya.

Tak seberapa jauh dari tempat kami menanam pohon, terdapat sebuah curug yang bahkan orang cianjur seperti rudi saja tidak tahu. ”Mayoritas yang berkunjung kesini memang wisatawan lokal, kalo wisatawan luar kota belum ada karena belum ada yang tahu” ujar salah seorang penduduk kepada kami yang sedang berusaha menuruni anak tangga yang licin karena baru habis hujan.

Jalanan menuju curug memang sedikit extreme. Selain licin, jalanannya juga curam dan kalau jatuh langsung ke jurang. Bahkan, tidak ada wisatawan yang berkunjung kesana selain kami yang datang. Perihal biaya memang tidak ada wong yang berkunjung pun masih wisatawan lokal desa.

Seperti menemukan berlian diantara tumpukan jerami, saya begitu terpukau begitu melihat keindahan alam sekitar. Airnya sangat bersih, lingkungannya masih sangat asri dengan hutan lebat disekelilingnya.

Melihat curug ini, saya jadi teringat akan curug cikaracak di bogor sana. Tinggi dan dikelilingi oleh hutan yang lebat. Namun entah mengapa curug goong ini memang lebih bagus. Mungkin karena belum banyak yang berkunjung jadi keasriannya masih sangat terjaga.

Dengan adanya potensi wisata ini, saya berharap masyarakat sekitar juga pemerintah daerah dapat mengelolanya dengan baik seperti menjaga keasrian hutan dan kebersihan sekitar curug sehingga nantinya dapat dijadikan pemasukan daerah khususnya pemerintah kabupaten Cianjur.

7 thoughts on “Tentang Konservasi dan Potensi Wisata Baru di Desa Gekbrong

  1. Wih beruntung banget euy masih ada curug yang demikian asri seperti Curug Goong itu. Semoga dapat membawa kemakmuran bagi masyarakat sekitar sebagai pengampu alam di sana. Apalagi dengan kehadiran perusahaan yang peduli akan kelangsungan lingkungan (mengingat sumber dari kegiatannya pun dari alam), ada simbiosis mutualisme yang bisa dijalin antara kedua belah pihak. Dengan demikian, kesejahteraan masyarakat pun bisa lebih cepat tercapai karena ada kerja sama yang baik dan timbal balik itu.

    1. betul kak, ada saling menguntungkan satu sama lain jadi selain terjaga kualitas airnya, ekonomi masyarakat jg menjadi lebih menguntungkan krn tidak berpengaruh lg sama bahan kimia 🙂

  2. Memang paling asik justru ke tempat-tempat yang belum banyak terjamah wisatawan kayak gini. Masih asri, gak banyak sampah, dan sepi tentunya. Menikmati air terjun dalam sepi kan lebih khidmat ya ketimbang kalo kawasan ini rame *nguomong opo iki?
    Beruntungnya kamu bisa ke sini Ruslan 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *