December 8, 2017 Dede Ruslan 8Comment

Satu dasawarsa ini, Pemerintah Kota Tangerang terus berbenah diri dan mengubah kotanya menjadi layak untuk dikunjungi oleh wisatawan. Selain beragam festival seperti festival cisadane, juga di beberapa sudut sudah ada taman tematik dengan berbagai tema menarik. Ada satu lagi yaitu Kampung Bekelir yang sedang hits saat ini.

Diresmikan langsung oleh Walikota Tangerang yaitu Bapak Arief R. Wismansyah pada tanggal  19 November 2017, secara resmi juga kampung yang beralamat di RW 01 Kelurahan Babakan, Tangerang ini menjadi bulan-bulanan para pemburu foto yang sudah tidak sabar ingin berpose dibalik gambar mural dan grafiti yang penuh warna.

Saya ingat betul ketika 3 tahun lalu masih sering-seringnya main ke pusat kuliner kisamaun dan sekitarnya, kampung ini memang terbilang kumuh. Letaknya sendiri persis di samping sungai Cisadane. Selain kumuh dan padat penduduk, juga rawan banjir kiriman dari hulu.

Kemudian munculah sosok seperti Bapak Ibnu Jandi sebagai penggagas awal didirikannya kampung bekelir yang menjadi wisata baru di kota Tangerang. Didukung juga dengan CSR dari perusahaan cat  seperti Pasific Paint, PT Samurai Paint, dan PT Ace Oldfields yang menyediakan kebutuhan cat untuk mewarnai rumah dan tembok di kampung bekelir.

Bapak Abu Sofyan

Selain itu ada bapak Abu Sofyan sebagai kepala kelurahan Babakan yang mendukung penuh dengan melakukan sosialisasi bersama beberapa penggagas kepada penduduk setempat agar rumah dan temboknya mau dicat dan digambar.

Awalnya memang banyak penolakan, tapi lambat laun warga sekitar juga menyadari akan potensi yang didapatkan bila kampung mereka menjadi kampung wisata, salah satunya dengan menjajakan jualan seperti pernak-pernik atau jajanan kepada wisatawan yang datang.

kak vika dan gambar liong

”Pada mulanya hanya ada 23 seniman saja yang membantu membuat gambar disini, tapi lambat laun bertambah dan sudah ada sekitar 120an orang yang membuat mural dan grafiti disini” ujar salah seorang guide yang mengarahkan kami berkeliling kampung berwarna ini.

Setelah menuliskan daftar hadir, kami mendapatkan gantungan kunci yang dibuat oleh penduduk kampung bekelir. Selain itu disediakan tempat souvenir seperti mug yang bisa kita beli ditempat registrasi tadi.

kak viraelyansyah dan kue warna warninya

Beberapa mural yang sangat khas, seperti gambar seorang penari lenggang cisadane yang cukup besar diseberang masjid, liong dari barongsai dan beberapa gambar menarik lainnya yang sepertinya sayang kalau dilewatkan begitu. Uniknya, setiap mural dan gambar ini menceritakan kisah sang pemilik rumah, seperti kucing, sayap malaikat atau aneka kue warna-warni.

Kami juga mendapat sambutan hangat dari kepala kelurahan babakan yaitu Bapak Abu Sofyan. Beliau juga menjelaskan beberapa rencana kedepannya khususnya dari kampung bekelir ini, seperti sarana MCK, homestay, juga adanya beberapa stand persis disamping cisadane yang dapat dijadikan tempat nongkrong untuk wisatawan sehabis berkunjung ke kampung bekelir.

Selain beragam mural dan grafiti yang memenuhi seisi kampung, saya begitu takjub akan keramah-tamahan penduduk sekitar. Kampung ini mungkin tidak akan sebagus ini tanpa dukungan dari penduduk, kelurahan hingga walikota Tangerang yang ikut mensukseskan berdirinya Kampung Berkelir. Saya pun tak segan untuk balik dan mengajak teman-teman saya berkunjung kesini, karena mereka sendiri juga penasaran dengan wisata baru di pinggir Cisadane ini.

8 thoughts on “Kampung Bekelir, Destinasi Wisata Baru di Kota Tangerang

  1. Arah kebijakan yang bagus, menjadikan kampung samping kali jadi kampung warna-warni. Harapan saya sih mudah-mudahan bisa tahan lama dan terjaga kebersihannya. Dengan demikian masa-masa kumuh itu tidak ada lagi. Apalagi jika digabung dengan wisata sungai yang baik (sungai yang bersih, transportasi yang lancar, ruang publik yang bagus), saya yakin ekonomi masyarakat sekitar sana pada khususnya, dan perekonomian kota pada umumnya, pasti bisa terangkat. Belum lagi ditambah dukungan laskar dalam jaringan seperti Mas dan bloger-bloger yang hadir di sana. Mantap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *