New Post

Hendak Naik Pesawat? Jangan Saling Tunggu-Tungguan Ya

Saling tunggu-tungguan sesama teman udah hal lumrah lah ya. Sebagai teman yang baik, siapa sih yang rela meninggalkan teman seperjalanan, entah itu naik kereta atau pesawat terbang. Kalau saya sih udah biasa nungguin orang atau bahkan ditungguin kalo mau trip entah naik apapun. Tapi tunggu-tungguan kali ini malah membuat drama dan (nyaris) berakhir fatal, kok bisa?

Pada awalnya saya dan teman saya ini akan berangkat dari Jakarta menuju Palangkaraya pada jam 14.55 WIB. Karena sudah tiba lebih dahulu, saya langsung melakukan check in dan menunggu dia sambil makan di restoran cepat saji. 30 menit kemudian dia datang dan memilih untuk menunggu di premiun lounge. Maklum, dia ngantuk berat katanya dan sebelumnya memang udah berpesan untuk dibangunkan sebelum tiba waktunya boarding.

15 menit sebelum boarding saya menghampiri dia yang dalam bayangan masih tertidur pulas di ruang lounge bandara. Namun sial, saya ga menemukan dia. Udah ditelpon, sms, whats app ga ada respon. Udah muter-muter di ruang lounge tetap ga ada. Sampai saya nanya ke resepsionis pun ga tau dia ada dimana.

Tinggal 5 menit lagi menuju boarding, saya memilih untuk meninggalkan dia yang entah ada dimana. Penerbangan ke ibukota Kalimantan Tengah ini hanya ada dua pilihan, pagi dan siang. Dan ini penerbangan terakhir hari ini. Kalau saya telat, bisa fatal akibatnya, karena ini bussiness trip bukan trip pribadi.

Panik bukan main manakala tinggal beberapa menit lagi pesawat itu akan berangkat. Situasinya makin gak karuan karena antrian panjang menuju tempat pemeriksaan sebelum masuk ruang boarding. Maklum  saja saat itu Garuda masih di terminal dua Soetta. Setelah selesai, saya pun lari sekencang-kencangnya seperti menuju ruang boarding.

Dengan muka kecapean dan napas masih ngos-ngosan saya pun bertanya kepada petugas perihal gate pesawat tujuan palangkaraya. Seperti orang kesurupan, petugas itu langsung teriak memanggil temannya yang sedang memeriksa tiket.

“Palangkaraya satu lagi nih, mas buruan lari kebawah ikutin petugasnya, itu udah bus terakhir, cepetan yah!”

Dalam situasi genting sambil lari terseok-seok, saya sempet kepikiran untuk lari ke tempat parkir pesawat jika bus penjemputan itu udah ga ada. Namun sepertinya saya sedikit beruntung, pasalnya bus penjemputan terakhir tadi masih menunggu saya sebagai orang terakhir yang naik. Tak lupa petugas pun merobek tiket. Ya, mungkin karena sama-sama panik, petugas tiketnya pun sampai nyaris lupa merobek tiket ketika berada di ruang boarding. Beruntung lagi nih, dia sempat merobeknya sewaktu saya akan memasuki pintu bus.

Dan semua mata tertuju kepada saya yang terlihat sangat kecapean, keringet ngucur sampai membasahi baju. tak henti-hentinya saya mengucap syukur karena saya masih diberi kesempatan naik pesawat walah nyaris banget telat. Entahlah apa yang terjadi kalau saya telat saat itu, mungkin project akan tertunda.

 

Sesampainya di tempat duduk, teman saya dengan enaknya bilang “kemana aja lu dari tadi, pesawatnya udah mau jalan nih, muka lu kecapean banget kayak abis lari-larian”. sambil berbicara dalam hati “iye, gue lari-larian karena nungguin elu yang ga ada kabar”. Dan penerbangan pun berjalan lancar. satu jam lebih saya sudah tiba di Bandara Tjilik Ruwit, Palangkaraya. Walau kecil, tapi bandara ini sangat unik dan khas ornamen dayak.

Ya, itulah sekelumit drama menuju ibukota Kalimantan tengah yaitu palangkaraya. Memang, drama pas awal-awalnya doang, selebihnya setelah kerjaan kelar, kami habiskan untuk bersenang senang, makan durian sepuasnya, keliling sungai kahayan, wisata kuliner dan melihat bundaran soekarno di pusat kota.

49 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.