Masih ngomongin soal drama naik pesawat, emang ga ada habis-habisnya ya. Entah itu telat, nyaris telat,  liat orang berantem sama pihak maskapai karena delay ataupun terpukau dengan maskapai yang tumben ontime. Mungkin ini terakhir kalinya saya berpergian tanpa perencanaan sama sekali. Naik pesawat itu memang berbeda. Kita harus menyesuaikan jadwal dengannya, bukannya malah dia yang menunggu kita.

Cerita berawal ketika saya di Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Tiga bulan sudah lamanya saya disini. Niat awalnya sih karena ingin belajar bahasa inggris. ”Kok jauh banget sih belajarnya?” iya karena aku pengen fokus belajar kak, kalau di jakarta nanti main-main terus”. Ya, pada kenyataannya disana juga main-main, hanya durasinya ga sering. Sebulan sekali main ke gumul atau keliling kota kediri, masih wajar lah ya.

Kebetulan saya ke Jakarta karena ada proses seleksi penerimaan pegawai salah satu Bank. Masih dua hari lagi sih tapi pengennya buru-buru pulang untuk persiapan. Malam sebelumnya, saya sudah booked maskapai low cost carrier yang terkenal sangat ngaret dan delay. Dengan terpaksa memilihnya karena harga dan jadwal yang sesuai dengan kemampuan dan keinginan saya.

Kalau sesuai jadwal sih, pesawat saya akan berangkat dari Bandara Juanda pukul 14.35 dan tiba di Jakarta satu jam berikutnya.

Pagi harinya sebelum berangkat, masih sempet-sempetnya masuk kelas pagi yaitu memorizing, alhasil saya baru siap berangkat pukul 9 pagi. Bus yang saya tunggu adanya satu jam sekali, dan kebetulan bus itu baru lewat jam 9 kurang. Akhirnya saya harus menunggu bus berikutnya. Ditengah kegundahan, saya mencoba menelpon travel ke bandara juanda. Namun sial, mereka baru ada jadwal lagi pukul 11.00 siang dan itupun sudah full booked.

Beginilah resiko kalau di pare, dimana angkutan jarang ditambah butuh waktu yang lama untuk sampai ke bandara Juanda. Minimal banget 3 jam kesana. Memang kesalahan saya sih, harusnya sih jam 6 tadi sudah siap untuk berangkat, eh malah masuk kelas dahulu.

ilustrasi bus mogok

Walau agak lama, akhirnya sampai juga bus yang ditunggu-tunggu. Dengan pedenya saya duduk paling depan, berdampingan dengan seorang ibu yang akan menuju Jombang. Naas, ditengah perjalanan sebelum sampai Jombang busnya mogok. Asap mengepul begitu kap mesin dibuka. Alhasil bus pun ga bisa melanjutkan perjalanan. Kami sebagai penumpang diminta untuk menunggu bus pengganti. Karena ga tau datangnya kapan, akhirnya saya menerima ajakan seorang kenek bus mini untuk naik ke Jombang, lalu lanjut lagi menuju Surabaya dan ke Juanda.

Tanpa henti saya beristighfar sepanjang jalan, berharap semua sesuai rencana dan ga telat. Sempet sih menghubungi pihak maskapai untuk check in online, tapi ga bisa karena waktu check in online sudah tutup. Saya cuman bisa pasrah dan duduk termenung sambil menikmati pemandangan perkebunan tebu sepanjang jalan. Kebetulan kabupaten kediri ini penghasil Tebu.

Ditengah jalan, saya seperti menemukan ide brilian untuk mencari penyewaan mobil menuju Juanda. Dan berhasilah saya, walau dengan harga yang sangat mahal. Harganya bahkan sama dengan penerbangan saya ke Jakarta. Tapi ga apa-apa lah dari pada telat dan ga bisa balik.

Setibanya di Jombang, saya harus menunggu driver-nya sampai satu jam! makin was-was karena tinggal dua jam lagi waktu check in terakhir. Setelah telpon-telponan tiada henti, akhirnya datang juga mobil avanza yang ditunggu-tunggu.

Tanpa pikir panjang, supirnya saya suruh ngebut untuk ngeburu waktu check in terakhir. Alhamdulillah, diluar perkiraan ga sampai dua jam sudah tiba di bandara Juanda dong. Saya langsung lari-larian (lagi) menuju kounter maskapai karena sebelumnya sempet lari-larian di bandara soetta [link].

Ternyata saya tiba disaat yang tepat. Selain check in tepat waktu, saya masih bisa makan dan jalan-jalan di Terminal 1 Juanda. 10 menit sebelum boarding saya udah duduk manis di ruang tunggu bandara. 30 menit kemudian pihak maskapai memberi kabar bahwa pesawat delay selama satu jam lebih dan baru akan berangkat jam 4an. Mereka pun memberi makanan ringan berupa satu gelas mineral dan dua snack garing.

”Yaelah, tau gitu dateng telat aja deh kalau ujung-ujungnya delay” ucap saya dalam hati. Walau sedikit kecewa karena delay, tapi banyak hikmah yang bisa saya petik, intinya jangan menyepelekan jadwal pesawat, apalagi kalau lagi di kota kecil yang angkutan umumnya jarang. harus punya plan a dan plan b sehingga bisa datang tepat waktu dan jangan lupa check in online is a must!

32 comments

  1. Saya pernah nih ngeraasain di situasi begini, bedanya bukan naik pesawat tapi kereta api wkwkwk. Duh, jangan sampai deh ketinggalan pesawat. lha wong ketinggalan kereta aja ngenes sampai harus ngemper di staisun 😀

  2. Naik bis Harapan Jaya ya, mas? Wah, kalo mau naik bis itu ke Bandara Juanda, mending lebih amannya kasih jarak minimal 6 jam. Jadi nanti ga keburu2 waktu di Juandanya
    Salam dari Kediri

  3. Aku pernah nih ngalamin kaya gini. Ga telat sih hanya pindah gate tanpa pengumuman padahal aku nunggu di tempat yg tercetak di boarding pass, sepertinya maskapai yg sama deh ini

  4. Nice sharing. Wkwkwk.. setuju, jangan menyepelekan jadwal pesawat karena nggak nunggu kita. Sebenarnya sih semua moda angkutan terjadwal seperti kereta juga sih kalau nggak mau ketinggalan.

  5. Baca artikelnya jadi ikut deg2an lho…Emang ya delay itu bikin jadi tambah bete, udah dibela2in supaya on time datangnya eh ga taunya malah pesawatnya delay.

  6. Sudah terlanjur mengeluarkan ongkos gede pula, eh delay. Hati rasanya gimana gitu. Tapi ya seperti itulah, diperjalanan itu tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Kalau lancar, bolehlah ,tapi kan yang namanya dijalan, pastinya ada hal-hal yang tidak terduga.
    Aduh lama, kita tidak bersilaturahmi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *