Review

Beginilah Susahnya Menabung, Padahal Masih Single

Setelah berjuang menyelesaikan skripsi, tiba juga akhirnya lulus menjadi sarjana. Hal yang membuat orang tua bangga sekaligus kagum, saya bisa lulus 3.5 tahun. Rasanya kayak cepet banget, tiba-tiba udah lulus dan mencari pekerjaan.

Beberapa hari setelah lulus, saya memutuskan untuk traveling ke Malaysia selama 6 hari. Kemana aja? Cuman ke dua kota yaitu Kuala Lumpur dan Melaka. Dengan biaya sendiri dan ditambah dengan jajan dari orang tua, akhirnya saya pergi bersama 4 orang teman.

Awalnya sih sesuai perkiraan, tapi makin lama di sana ternyata biaya pengeluaran membengkak. Banyak yang ga sesuai perkiraan, termasuk penginapan. Selama di Melaka, saya tiga kali berganti hotel. Karena sebelumnya emang belum memesan via internet alias datang langsung.

Sewaktu Traveling ke Malaysia

Pulang dari Malaysia dapat apa? Selain oleh-oleh yang ga banyak, uang saya malah makin tiris. Bener-bener pengeluaran banyak banget di sana. Saya sampai tuker uang berkali-kali. Ada dollar Singapore pun saya tukar demi menyambung hidup di sana.

Beruntung, beberapa minggu setelahnya saya mendapatkan pekerjaan. Alhamdulillah masih satu bidang jurusan sewaktu di kuliah yaitu menjadi IT Network. Walau sebenarnya saya ingin menjadi programmer, tapi takdir menentukan lain. Tapi tak apa, yang penting bisa kerja dan mendapatkan uang.

Euforia pasca lulus nampaknya masih berlangsung ketika saya mendapatkan kerja. Setelah satu bulan kerja dan mendapatkan gaji, hidup saya makin hedon. Gaya hidup saya bahkan meningkat, padahal gaji pas-pasan.

Bagaimana ga hedon, kalau tiap makan siang makannya di kantin kantor. Sekali makan minimal banget 20.000. Mau lebih enak lagi makan soto betawi sekali makan 40.000. Belum minumnya beli, padahal di kantor ada air putih gratis. Apalagi kalau minum saya belinya jus, atau es buah. Makan siang aja bisa ngabisin 50.000.

Belum sorenya kalau pulang cepat kadang ngumpul sama teman-teman kantor atau teman komunitas. Entah ke kafe atau nonton film di bioskop. Sekali nongkrong minimal banget 100.000. Belom makan malam, minum kopi lah, atau beli cemilan pengganjal lapar. Beruntung sih kalau lembur selalu dapat makan malam, jadi sedikit mengurangi pengeluaran.

Saat Traveling ke Jogja

Sabtu dan minggu ga kalah hedon. Sering banget traveling bareng teman-teman. Entah ke Bandung, Bogor, atau yang agak jauhan ke Jogja. Kadang kalau di Jakarta aja suka ngumpulnya ke Café yang notabene mahal. Emang sih traveling dengan sistem share cost, tapi ujung-ujungnya mahal juga. Belum biaya makan, minum, oleh-oleh atau keperluan pribadi lainnya semisal perlengkapan mandi atau obat-obatan.

Kalau ga kemana-mana, saya biasanya ke café. Ngumpul sama teman-teman sampai seharian. Bisa dibayangkan ke café seharian? Boros banget. Makan aja minimal 50.000. belum minumnya yang sedikit. Apalagi kalau minum kopi malah bikin seret tenggorokan.

Kadang saya juga suka membawa mobil untuk jalan-jalan ke kota sebelah yaitu Tangerang. Sekali jalan aja ngabisin bensin 100.000. Belom makan dan lainnya. Bisa dibilang, setiap hari adalah hari menghabiskan uang.

Godaan demi godaan datang. Kali ini datangnya bukan karena teman ataupun ajakan ngetrip tapi dari PC saya sendiri. Yup, terkadang saya tergoda untuk belanja online yang tidak sesuai dengan kebutuhan.

Saat-saat itu saya lebih mementingkan pengeluaran tersier ketimbang kebutuhan primer yang pasti dibutuhkan setiap bulan. Belanja mulai dari penggilingan sushi, bibit tanaman, barbel sampai timbangan saya beli, padahal belum terlalu butuh.

Emang sih itu kebutuhan jangka panjang, tapi saya malah melupakan kebutuhan primer seperti membeli batik lengan panjang untuk pakaian hari senin dan rabu. Belum lagi handphone saya yang jeleknya minta ampun, terkadang menyulitkan untuk berkomunikasi dengan atasan. Apalagi kerjaan saya bisa dibilang mobile ke cabang-cabang atau luar kota.

Sewaktu Dinas Luar ke Makassar

Pengeluaran lain datang ketika dinas luar ke luar kota. Kebutuhan makan ataupun kebutuhan lain selama di luar kota. Apalagi wajib banget beli oleh-oleh baik untuk orang kantor ataupun orang rumah. Kadang saya sampai ditagih oleh-oleh kalau sudah tiba di kantor oleh teman-teman. Akan sangat kecewa jika saya tidak membawa apapun.

Tapi lama-kelamaan saya mulai merasakan kekurangan uang, apalagi setiap akhir bulan. Dan kalau udah akhir bulan, rasanya saya tidak ingin kemana-mana. Sampai harus menghemat dengan tidak makan siang di kantin, melainkan di luar lingkungan kantor alias di warteg.

Gaya hidup yang tidak sesuai gaji ini terkadang membuat saya berpikir untuk menabung ataupun berinvestasi di kemudian hari. Karena dengan begitu, siapa tau pasti dikasih lebih. Jadi uang di rekening tidak keluar begitu saja, setidaknya saya mempunyai simpanan yang bisa digunakan untuk dana darurat atau keperluan lain yang mendesak.

Kalau kamu sendiri pernah mengalami hal seperti saya ga?

#PastiDikasihLebih

5 Comments

  • yayat

    wahhhh pengeluarannya gede juga tuh,…. iya tuh harus disisihin buat tabungan… kalo susah nabung kudu punya investasi tuh… saya orang yg susah nabung sih… jadi saya beli emas buat investasi

  • Timo

    Ajak2 dong kalau nongkrong di cafe, biar aku bs ditraktir hahaha 😀

    Anyway, jd keinget kl lagi jalan, emang sih ya udah dijaga2 biar ga terlalu berlebih, tp terkadang suka lepas rem nya kl ngeliat ada cafe yang lucu2, langsung deh mampir hahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.